Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Minggu, 30 April 2017

Azimat Hati-Hati




#MiladAlFalah47

*Part 1


Sinar Mentari Rabu pagi masih menghangatkan dan menyinari mengiringi langkah perjalananku. Kakek dan Nenek, kedua orang tua ibuku yang kupanggil mereka Bapak dan Mama tampak bangga dan haru melihat langkah dan niat baikku untuk pergi melanjutkan belajar ke tanah Jawa.

Semalam, aku sudah dibekali dengan nasehat yang kelak akan menjadi peganganku ketika jauh dari mereka, kini, disaat aku telah siap berangkat menuju bandara, mereka tak berkata sepatahpun, hanya linangan air mata yang terlihat mengiringi kepergianku.

“Hati-hati disana Nak.” Kalimat itu cukup untuk meredam rasa risau dan bimbang dalam hati ini.

Hati-hati! Kata yang begitu populer dan banyak kita temui dimana-mana, dijalan raya, di depan belakang truk, spanduk-spanduk. Hati-hati betapa kerap di ucapkan sebagai peringatan, seringkali diucapkan oleh sang penceramah bahkan oleh para penyair. Tapi kata hati-hati merupakan azimat untukku, untuk selalu menjaga diri, sikap dan hal yang menjadi doa untukku.

Sebenarnya rasa tidak tega untuk kedua kalinya meninggalkan mereka yang teramat kusayang, jika dahulu untuk pulang kerumah dan berkumpul dengan keluarga sangatlah mudah, karena jarak Pesantren dan rumahku tidak begitu jauh, namun sekarang aku harus berjarak 816,3 KM dengan mereka dan bahkan kita tidak akan bisa bebas setiap hari berkomunikasi, tapi aku ingin mewujudkan mimpi Bapak, beliau menginginkan aku menjadi seorang perempuan penghafal Al-Qur’an dan Sarjana.


Dan keinginan itu selaras dengan Ridho Tuhan melalui beasiswa yang diberikan oleh Pemerintah Kalimantan Barat berkat prestasiku di even MTQ.

“Dik, Ayah Syahid itu tidak hanya seorang Qori, Beliau juga seorang Mursyid Tarekat Naqsabandi Al-Haqqani,” Ucap Kak Khoiri menceritakan sosok Pengasuh Pondok Pesantren yang menjadi tujuanku dan seorang temanku itu.

Muhammad Khoiri adalah Alumni Pesantren Al-Falah yang berasal dari Kalimantan Barat juga, ia yang akan menjadi wakil dari keluraga kita selama dibandung. Sebelum dia pesantren di Al-Falah, dulunya ia juga pernah menjadi santri di pesantren Abdussalam di sebuah sudut desa Sungai Ambawang yang juga banyak melahirkan santri-santri yang tidak hanya Penghafal Al-Qur’an tapi juga Pintar membaca Kitab-Kitab Kuning dan ilmu-ilmu Nahwunya yang sudah banyak menorehkan prestasi tingkat Nasional.

“Pesantrennya ada dua, Al-Falah satunya di Jl. Kapten Sangun Cicalengka.” Jelasnya di dalam mobil Taxi yang membawaku dari Bandara Jakarta menuju bandung itu.


“Nanti adik bisa belajar Qiroatus sab’ah juga disana,” lanjut ceritanya menjelakan kepadaku.


Tibalah aku disebuah pesantren terkenal di Jawa-Barat yang di dirikan oleh seorang Qori KH. Q. Ahmad Syahid, Ph. D yang pernah menjuarai Musyabaqoh Tilawatil Qur’an (MTQ) Tingkat Nasional pertama 1968 di Makasar.

Letak geografis yang sangat mendukung untuk para penghafal Al-Qur’an dengan cuaca yang begitu sejuk, Pesantren itu bernama Al-Qur’an Al-Falah II yang beralamat di Jalan Pamucatan Nagrek Bandung.

Persis di belakang kamar santri, sebuah gunung yang cukup tinggi menjulang, seperti melindungi dan menaungi Pesantren ini, terlihat seorang santri bersarung dan berkopiah menghampiri dan mengarahkan kita untuk menuju sebuah rumah, yaitu dalemnya Kiyai.

KH. Ahmad Farizi Al-Hafizd namanya, Beliau adalah menantu dari Ayah Syahid yang di ceritakan oleh kak Khoiri tadi, kulirik tropi-tropi dan Plakat-plakat penghargaan yang tersusun rapi di dalam rumahnya.

“Sepertinya beliau sudah banyak meraih prestasi,” gumam hatiku kagum.

Bagiku, menemui seorang kiyai pengasuh pondok pesantren Al-Qur’an bukanlah perkara biasa, aku malu bertemu Kiyai, apalagi beliau adalah seorang Hafizd. Entah kenapa, aku menganggap bahwa Kiyai adalah seorang yang memiliki mata bathin yang di anugerahi Tuhan yang bisa menembus dan mengetahui masa lalu seseorang yang dilihatnya. Makanya aku lebih banyak menunduk saat beliau duduk bersama, karena hal itu juga yang selalu diajakan di pesantren Abdussalam, tata krama, sopan santun, adab dan akhlak ketika mengahadap seorang Kiyai, Guru dan orang di hormati.

“Sudah pernah menghafal Al-Qur’an?”

“Iyaa Kiyai”

“Sudah berapa Juz?”

“Sepuluh Juz.”

Suaraku gemetar. Kepalaku masih menunduk, kalaupun mendongak, hanya berani memandang tasbih yang berputar ditangan Abi Farizi.

“Dulu pernah pesantren dimana?”

Aku tak tahu bagaimana merangkai kalimat yang pas, santun, dan tentu singkat.

“Pesantren Abdussalam di Pontianak.”

Aku terdiam, dan masih dalam tundukan.

Setelah kakak menjelaskan dan menitipkanku di pesantren ini, kakak juga memintakan doa agar aku bisa betah dan mendapatkan ilmu yang berkah dan bermanfaat.

“Nanti jadwal setoran hafalannya ba’da subuh disini ya!” Ucap beliau menjelaskan.

Seorang Khodim (Baca: Pendamping) Kiyai mengantarkanku ke kamar yang di khususkan untuk para penghafal Al-Qur’an.

Rabu, 26 April 2017

Perihal #GombalinAhok






Sumber: 


Hujan begitu deras mengguyur ibu kota sore ini, driver ojek online pun sepertinya juga tak mengindahkan para penumpang, otak jahatkupun mendukung membuat enggan untuk berangkat kuliah.

Beberapa menit kemudian dapatlah driver yang mau mengantarku ke stasiun tanah abang.

"Ah nanti bakal lewat depan Balai Kota, aku ingin memastikan kebenaran karangan bunga untuk Pak Ahok yang banyak diberitakan hari ini", celoteh dalam hatiku ditengah perjalanan.

Dan ternyata benar, disepanjang jalan Medan Merdeka Selatan itu dipenuhi dengan karangan bunga.
Aku coba untuk mencari celah memastikan tulisan pada karangan bunga tersebut untuk siapa.

"Wah kok banyak sekali karangan bunga disini pak?, Tanyaku pada driverku.

"Itu ucapan selamat buat pak anis mbak"

"Ah bukan pak, itu ucapan terimakasih untuk Pak Ahok" sanggahku membenarkan apa yang telah aku lihat.

Terimakasih Pak Ahok atas kerja kerasnya membangun Jakarta ; Ibu-ibu Majlis Ta'lim Assa'adah
Pak Ahok We Love You ; PT. Sup***
Terimakasih Pak Ahok & Djarot atas Peluh Keringat yang Tercurah untuk Jakarta ; Dari kami yang patah hati dtinggal saat lagi sayang-sayangnya.

Kira-kira begitulah sekilas yang kubaca ditengah perjalananku menuju stasiun tanah abang.

"Banyak sekali ya yang bersedih terhadap kekalahan pak Ahok, ucapku dengan nada berdecak kagum melihat bunga-bunga mawar disepanjang jalan.

"Ah itu dukungan bohongan mbak, itu setingan. Lontar driver gojekku yang ternyata menyanggah dengan pernyataanku sebelumnya.

"Tapi bapak merasakan juga kan perubahan Jakarta yang lebih baik?

Iya sih mbak, tapi Ahok bukan cuma salah kata mbak, dia itu di suruh untuk melecehkan ayat Qur'an.
Ahok itu sengaja mbak dikalahkan, itu semua permainan PDIP, lanjutnya menjelaskan.

Macet dan gerimispun menjadi pelengkap menambah kekhawatiranku telat masuk kuliah, hingga membuatku enggan untuk berkomentar.

Sampailah aku di krl tujuan Tanah Abang - Pondok Ranji, dan beruntung kali ini bisa duduk sembari membaca buku untuk bahan materi hari ini.

"Eh bu wind kirim dong foto yang tadi", komentar ibu-ibu setengah baya yang duduk disampingku.

"Iya nanti saya kirim fotonya, ternyata banyak juga ya yang mengirimkan karangan bunga untuk Pak Ahok, padahal dia kalah.

Eh bu! Udah pernah ke kalijodo gak?

"Belum sempat jeng, katanya sudah tidak bersih lagi ya?"

"Iya bu, sudah dipenuhi sama pedagang jalanan, tuh kan liat saja bu Jakarta bakal lebih buruk lagi dipimpin sama pak Anis."

Sebagai Mahasiswa yang manis aku mencoba untuk meluruskan yang di bicarakan oleh ibu-ibu yang duduk disampingku itu.

"Bu... Tidak boleh pesimis begitu, Pak Anis belum juga dilantik, masih terlalu pagi untuk menagih janji-janji manisnya.

Tapi mbak, dia itu jadi Mendikbud aja dipecat, ya gimana mau mengurusi Jakarta yang begitu banyak PR nya ini?

"Kan butuh waktu bu untuk mewujudkannya, menepati janji itu tidak mudah bu, butuh usaha dan perjuangan, tapi kalau dia pura-pura lupa sama janjinya, ya pasti dia akan menjadi mantan yang buruk untuk dikenang".

"Hahahahahahaa....

"Mbak pernah jadi korban janji siapa? Kok bahasanya puitis sekali?",

Sesaat lagi anda akan tiba di Stasiun Pondok Ranji.

Peringatan dari Commuter Line mengingatkan bahwa tujuanku sudah tiba.

By the way, ada yang bisa jawab atau berkomentar dari ceritaku ini??

Yuuukk mari kita tertawa saja, jangan dibawa pusing.

Jumat, 21 April 2017

Kartini dan Rumah Literasi


Subuh tadi aku terbangun oleh deringan handphone, ternyata ibuku yang menelfonku.

"Selamat ulang tahun nak, mama hanya bisa mendoakan yang terbaik untukmu"

Ya, ibuku memang selalu mengingat hari lahirku yang berbarengan dengan anak-anak dikampung yang memakai kebaya, 
yang mereka sebut dengan "Kartinian".

Ibuku kembali menceritakan masa kecilku, dan hari ini kembali membuatku teringat sama Almarhum kakekku yang selalu mengirimkan uang jajan lebih ketika di pesantren sebagai hadiah ulang tahunku.

"Mama hanya berharap semua impian dan niat baikmu tercapai".

Kudengar begitu lirih dan penuh keyakinan dari suaranya yang parau..

Ah, semua bayangan masa kecil itu selalu menjadi kenangan visual di hari lahirku.

Saat pagi itu, 15 tahun yang lalu aku sudah di dandani dengan cantik dengan menggunakan pakaian kebaya oleh ibuku, meskipun ibuku hanya lulusan SD, tapi ibu selalu memantrai aku dengan penyesalannya karena lebih memilih dijodohkan dan menikah.

Di kampungku memang  setiap anak perempuan yang sudah beranjak remaja kerapkali dipaksa untuk menikah, seperti sudah menjadi tradisi, perempuan itu dianggap menjadi anak dare yang tidak laku atau perawan tue, jika di usia 19 tahun belum menikah.

"Nak teruslah sekolah, jangan pernah lelah, jangan seperti ibu yang hanya lulus Sekolah Dasar"

Ucapnya ketika itu sembari membereskan sanggulan rambutku.

Pada tanggal 21 April setiap tahunnya yang di peringati sebagai hari kartini, namun aku juga kerap kali menanyakan perihal ibu kartini dan siapa perempuan yang lagunya selalu dinyanyikan di sekolah itu?

Yang aku tahu ibu kartini itu adalah putri sejati yang harum namanya, tapi tidak tahu siapa sebenarnya dia? Dan punya jasa apa hingga setiap tahun namanya selalu dirayakan.

Kemudian, aku pun mempelajari sosok seorang Kartini, Dari berbagai sumber yang ku baca R.A Kartini itu adalah seorang perempuan pelopor emansipasi wanita yang berasal dari Jepara, Jawa Tengah. 

Beliau banyak membaca surat kabar, buku-buku karya Louis Coperus yang berjudul De Stille Kraacht, karya Van Eeden, Augusta de Witt serta berbagai roman-roman beraliran feminis yang kesemuanya berbahasa belanda, dan majalah-majalah kebudayaan eropa yang menjadi langganannya. 

Dalam buku yang berjudul “ Habis Gelap Terbitlah Terang “ berisi tentang surat-surat yang Raden Ajeng Kartini kirim kepada sahabat-sahabatnya yang tinggal di Belanda. Dalam surat tersebut, Kartini menceritakan isi hatinya, cita-cita, dan harapannya untuk memajukan kaum wanita Indonesia agar tidak terbelenggu oleh adat.

Juga terdapat sebuah opini yang ditulis oleh Vissia Ita Yulianto di Jakarta Post pada 21 April 2010 silam, ia berpendapat bahwa pergeseran sosok Kartini dari seorang pejuang emansipasi perempuan ke seorang putri sejati adalah salah satu alasan utama sebagian besar publik melupakan apa yang seharusnya dirayakan saat hari Kartini. 

Yakni, bahwa Ibu Kartini adalah seseorang yang mengambil langkah pertama untuk memperjuangkan hak perempuan untuk mendapatkan pendidikan, walaupun pada akhirnya Kartini pun terpaksa memotong singkat pendidikannya untuk menikah. 

Lebih mengenal sosok Kartini sebagai pejuang perempuan yang ingin menuntut ilmu setinggi tingginya, sejujurnya aku juga mempunyai keinginan yang sama, yaitu keluar dari sebuah tradisi dari kampungku, dan aku ingin menjadi seorang perempuan yang kelak bisa memakai toga.

Sebuah cita-cita yang teramat sederhana, namun itu sebuah impian yang sangat berat ketika itu.

Namun sepanjang tahun apakah Kartini akan selalu kita maknai dengan berkebaya?

Sejatinya banyak hal biasa, namun sangat luar biasa jika kita belajar dari sejarah seorang kartini, Lahirnya hari Kartini tak dapat dipungkiri tercetus dari kedekatan seorang Kartini dalam budaya literasi. 

Keseharian Kartini tidak lepas dengan buku-buku, dan kegiatan tulis menulis lewat surat-suratnya yang dapat kita nikmati hingga kini. Ia seperti bersepakat dengan apa yang dikatakan Pram “Orang boleh pandai setinggi langit. Tapi selama tidak menulis ia akan hilang dari masyarakat dan sejarah.” Spirit literasi itulah yang menjadi rumah intelektualitas dan energi perjuangan seorang Kartini yang seharusnya diadopsi oleh para perempuan yang hidup di masa kini.

Membaca dan menulis ibarat kendi, apa yang kita tuangkan itulah yang akan terbagi. Mungkin masih teramat sulit menjadi kaum perempuan yang meliterasi ditengah era modernis dan digital ini, masih banyak issu pelecehan seksual, paham radikalisme yang notabene banyak di serap oleh kaum perempuan, dan dengan mudahnya mengkonsumsi berita-berita hoax di dunia maya, Perempuan dalam literasi adalah bagian penting untuk menjadi perempuan yang cerdas untuk melahirkan generasi baru dari rahim agungnya, terlebih dengan tugasnya sebagai "al ummu madrasatul 'ula".

Lahirnya keterbukaan di era digital ini ditandai dengan semakin mudahnya membagikan apapun di sosial media, menjadi catatan penting kembali lahirnya budaya Patriarki di era sekarang ini.

Oleh karena itu tantangan utama Kartini di zaman millenial yang serba kekinian ini salah satunya adalah melawan dan membentengi diri dari imajinasi-imajinasi Patriarki.

Tak hanya sampai disitu, perempuan “millenial” pun nyatanya mengalami hangatnya perdebatan, misal "Kalau perempuan itu, ya nyuci pakaian dan piring".

Kamu tau bagaimana rasanya menjadi seorang perempuan yang dilahirkan di sebuah desa penganut paham "di dapur, di sumur, dan dikasur" ?


"Perempuan itu tak usahlah nak pegi sekolah tinggi-tinggi, ape agi jaoh-jaoh, belaki yak, nanti pon kerjenya di dapok",

artinya perempuan itu tidak usah berpendidikan tinggi, apalagi jauh, menikah saja, kelakpun kerjanya di dapur. 

Kalimat itu seakan sudah menjadi mantra di desaku, tapi setidaknya saat ini aku bisa melawan mantra itu sejak 15 tahun silam, sejak pertama meyakinkan kedua orang tuaku untuk melanjutkan kuliah di tanah jawa, aku harus dihadapkan dengan sebuah pilihan menuruti kata nenekku untuk menikah atau membantahnya dan mengikuti suport dari kakekku untuk meraih mimpiku memakai togak.

Bahkan aku tidak pernah tahu bagaimana aku akan dapat membiayai kuliah, sedangkan kakek dan nenekku sudah sepuh, ia sudah tak sekuat dulu ketika usaha karetnya cukup pesat dan warungnya begitu ramai pengunjung.

Tekadku pun tak ingin lagi menjadi anak yang selalu dimanjakkan oleh mereka, aku ingin jadi anak yang mandiri, dan ternyata keinginanku sejalan dengan restu Semesta.

Hingga akhirnya mereka meninggalkanku di dunia ini untuk selamanya, yang kini hanya ibu kandungku menjadi satu-satunya motivasi dan vitamin kehidupanku.


Sebuah drama dan sketsa-sketsa peristiwa yang akan menjadi motivasi diriku bahwa perempuan berhak untuk berpendidikan tinggi, perempuan harus cerdas, pintar, berwawasan luas, dan perempuan yang mampu mengukir sejarah terindah dalam hidupnya.

Kodratku sebagai perempuan terkadang menuntutku untuk menjadi sempurna, pandai mengurus rumah, pandai bersosialisasi, pandai mengasuh anak, pandai mengurus suami dan masih banyak lainnya.

Iya, aku tahu itu tidaklah mudah.

Setidaknya aku sedikit malu dengan tanggal lahirku dan pesan dari seorang kartini “Kita dapat menjadi manusia sepenuhnya, tanpa berhenti menjadi wanita sepenuhnya”.
Untuk para perempuan, kita adalah pemegang ujung tombak kemajuan bangsa dan negara ini, karena dari kitalah kelak akan lahir generasi-generasi cemerlang.

"Kelar studi Mastermu, calonnya diajak ke rumah ya nduk!! 

tegas ibuku tanpa spasi, dan akhirnya kita tertawa bersama-sama.

Selamat hari kartini, dan selamat ulang tahun untukku…


Kamis, 09 Maret 2017

Harga Teman, dan Nasi Warteg

Saya yakin, kita pernah mempunyai teman yang super menyebalkan ketika kita sama salah paham, si doi malah gak paham-paham, Suuzdon terus, dan jenis teman yang seperti ini bikin kita mikir, “ini orang kayak bukan makhluk bumi” atau “Duh, ini orang masa hal sepele begini aja suara amarahnya sudah mengalahkan suara toak.
Itu sudah biasa kita temui, bahkan sejak kecilpun kita sudah punya teman dengan berbagai watak, termasuk watak pribadi kita sendiri, yang terkadang cocok-cocokan terhadap watak teman. (Yaelah cocok! Jodoh kali ah!)
Ada seorang teman, (saya cerita teman masa SMP aja, karena kalau diceritakan semua kebanyakan) sebut saja namanya kartika (bukan nama sebenarnya) dia wataknya keras kepala, egois, cuek, dan kalo ngomong pedes banget (cabe rawit pokoknya).
Jika ada yang bertanya, lantas mengapa saya masih bisa bertahan bershabat dengan dia hingga saat ini? Padahal watakku juga jauh keras kepala, dan egois.
"Bersahabat denga kartika selalu membuatku bahagia" simpel hanya karena membuat bahagia.
Sisi baiknya dia jauh lebih banyak dibanding keburukkannya.
Doi selalu memberitahu ketika saya salah, mengingatkan ketika saya lupa dalam kebaikan. (Padahal umurnya masih dibawahku)
Doi rajin ibadahnya, jam 3 subuh sudah bangun menunaikan sholat tahajud, pribadinya tertutup, disiplin, tepat waktu, senang berbagi, tidak mudah untuk menyebarkan aib teman-temannya, dan satu hal yang tidak bisa dilupakan, dulu ketika masih sama-sama dibandung, pada waktunya kita sama-sama berhalangan puasa, doi sering ngajak beli jajanan bandung pada bulan Ramadhan di sepanjang trotoar Alun-alun Masjid raya, dan memakannya di balik taman agar tak terlihat khalayak ramai. (Ingat! Adegan ini tidak layak untuk ditiru) dan masih banyak pribadinya yang membahagiakan.
Jika ditanya lagi, apakah kita tidak pernah berselisih, atau salah paham, atau brantem saling teriak-teriakan?
Waah itu sering, bahkan sering banget, tapi kita teriak-teriaknya didalam hati, saling menjengkelkan, dan menyebalkan. Doi cukup dewasa menyikapinya, cukup sama-sama diam, tidak pernah mengumumkan jika lagi ada masalah denganku, memposting status di fb contohnya, doi tidak pernah sekalipun melakukan hal yang tidak penting itu, cukup diam dan saling introspeksi diri.
Ada banyak alasan untuk berteman dengan dia, dan hingga saat ini persahabatan tetap erat. Dan satu hal lagi yang membuatku selalu ingin bershabat dengannya, doi rajin baca buku.
Karena menurutnya membaca membuatnya berfikir cardas dan bijak.
Saya pernah membaca salah satu artikel mojok, di zaman keberlimpahan informasi seperti sekarang ini, yang kecepatan perputaran arus informasi tidak diimbangi dengan minat membaca yang serius. Orang-orang jadi nampak “banyak yang bego”. Sebabnya, membaca juga merupakan keterampilan, yang sama seperti keterampilan sederhana lain seperti mengayuh sepeda, misalnya, yang mesti dilatih terus-menerus agar semakin cakap.
Dan menurut survey abal-abal yang saya teliti, sesorang dengan menyandang umur yang lebih tua, ternyata tidak menjamin otaknya jernih dalam bersikap, Suuzdon terus. Dan dewasa ternyata benar-benar sebuah pilihan.
Kembali pada tema TEMAN, saya pun teringat ketika dipondok dulu, sebelum memulai belajar yang lain, kiyai mengajarkan kitab-kitab adab, salah satunya Taklimul Muta'allim, dan syair-syair imam syafi'i yang seingatku isinya seperti ini :
"Bila tak kautemukan sahabat-sahabat yang taqwa, jauh lebih baik kamu hidup menyendiri daripada kamu harus bergaul dengan orang-orang jahat.
Percayalah, duduk sendirian untuk beribadah dengan tenang akan lebih menyenangkanmu daripada bersahabat
dengan kawan yang mesti kamu waspadai.
Selamatkanlah dirimu, jaga lidahmu baik- baik, tentu kamu akan bahagia walaupun kamu terpaksa hidup sendiri.
Tidak baik bersahabat dengan pengkhianat karana dia akan mencampakkan cinta setelah dicintai. Dia akan memungkiri jalinan cinta yang telah terbentuk dan akan menampakkan hal-hal yang menjadi rahasiamu.
Tak semua orang yang engkau cintai, akn mencintaimu. Dan terkadang sikap ramahmu dibalas dengan sikap tak sopan.
Berharaplah engkau mendapatkan sahabat sejati yang tak luntur baik dalam keadaan suka ataupun duka. Jika itu engkau dapatkan, berjanjilah dalam hatimu untuk selalu setia padanya.
Apabila engkau menginginkan kemuliaan maka carilah sahabat dari orang orang yang takut kepada Allah Swt".
Senada dengan pesan salah seorang teman kampusku " cara berteman yang sehat tidak hanya berteman yang "kelihatan" baik, karena diri kamu mudah terpengaruh, maka berhati-hatilah dalam bergaul" sekilas pesannya pendek tapi kok "makjleb banget" apalagi beliau sudah pernah merantau ke negeri para ulama, konsumsi kitab-kitabnya jauh lebih banyak, dan juga beliau pasti sudah banyak mengalami sensasi problematika berteman.
Aduuh Gustiii nu Agung, hapunten sagala hilaf abdi!!
Ada dua poin yang perlu kita ketahui, kenapa TEMAN adalah menu yang harus disantap sebelum Ah*k jadi Gubernur DKI.
Pertama: Tidak ada label halal MUI, Ketika warung-warung steak, dan cafe-cafe banyak diganggu oleh seritifikasi halal MUI, maka makan daging mentah teman (menggunjing) akan ada terus dalam peradaban dunia.
Kedua: Murah meriah. Ketika kutahu bahwa makan di warung steak yang harganya bisa buat makan seminggu di warteg, Berapapun itu, yang pasti tidak akan lebih murah ketimbang makan daging mentahnya teman. Makan teman bisa dikatakan tidak ada biayanya. Atau malah untung. Saya hanya butuh teman untuk mendengarkan omonganku, dan akan saya ceritakan aibnya lalu saya menggunjingnya di sosmed. Murah!
Naah! Coba deh sesekali baca kitab-kitab imam Al-Ghazali pada bab "Menggunjing/Ghibah". Kalau gak punya coba pinjem. Kalau gak ada juga, yaelah pantas aja hidup mu suram! (Eh jangan darah tinggi dulu, cuma becanda)
Karena doaku tetap sama seperti dulu, semoga hidupmu lebih indah.

Jumat, 01 April 2016

Desa itu bernama Dusun Limau



Ketika pagi rumah kami selalu disinari secara langsung oleh matahari dengan pemandangan sungai kapuas..
Sungai kapuas adalah sungai yang sangat panjang, lebarnya bisa mencapai 600 meter dan dalamnya ketika pasang bisa lebih dari 15 meter. Sungai ini terlihat tenang namun sebenarnya lumayan deras dan menghanyutkan.
Yaah! rumah kami memang berada ditepi sungai kapuas, dengan bangunan yang cukup tinggi yang semuanya berasal dari kayu belian. Konon kayu belian ini sangat awet meskipun terendam air hingga puluhan tahun.
Kami memang hidup dengan berbagai keberagaman agama, suku dan adat istiadat.
Di desaku ini tidak cukup banyak seorang ustazd yang mengajar ngaji di musholla. Sehingga untuk belajar mengaji setiap sore aku harus menempuh perjalanan sepanjang 4 km ke desa sebelah dengan berjalan kaki, dan malamnya harus menginap dirumah uwak atau dirumah teman-temanku. Setelah subuh aku harus segera pulang karena harus sekolah di SDN 04 desa puguk.
Setiap berangkat ke sekolah, ketika melewati rumah orang yang beragama katholik dan tionghoa tak jarang aku selalu bertemu dengan si kubi (nama anjing). Sebelum nenek ku melarang dan mengharamkanku untuk menyentuh anak anjing itu aku pernah sekali menegelus-elus kepalanya, tapi karena aku masih ingat ketika Denis melaporkanku karena menyentuh anak anjing itu sontak nenekku langsung memberikanku hukuman dimandikan secara paksa dengan menggunakan air yang bercampur debu itu, aku jadi tak berani untuk sekadar memanggilnya apalagi menyentuh si kubi itu lagi.
Disekolah aku sangat lancar berbahasa cina dan dayak karena teman-temanku sering mengajariku bahasa mereka, bahkan ketika hari minggu aku sering ikut temanku Ninis Ariska yang beretnis tionghua dan katolik itu untuk menemaninya ke Gereja, selama melakukan ritualnya didalam gereja aku, anggi dan tika yang beragama islam hanya menunggu diluar gereja sambil menghafalkan lirik lagu-lagunya penyanyi junjungan kami Siti Nurhaliza.
Ninis pun tak jarang ikut ke masjid meskipun ia hanya menemani untuk makan mie remes di halaman mesjid ketika orang-orang sedang sholat tarawih.
Yah kami berempat memang berteman sangat akrab sejak kecil, selain kita satu kelas, rumah kita yang berdekatan yang membuat kita selalu bermain bersama. Tak jarang kita selalu jadi penari dan penyanyi cilik melayu di acara-acara walimah di desaku.
Ketika hari raya idul fitri, sebelum berangkat ke masjid untuk sholat iedul fitri, nenekku sibuk menyiapkan makanan dan menyuruhku untuk mengantarkannya ke rumah tetangga juga ke rumah yang non muslim.
Begitu juga ketika menjelang nyepi dan natal tak jarang mereka selalu mengirim angpau atau parcel kerumahku.
Aku juga pernah menyaksikan acara adat dayak "naik dangau" yang diadakan dua tahun sekali.
Aku juga sering ikut menghias pohon natal dirumah ninis.
Dan betapa aku sangat bahagia pernah hidup di desa yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi dalam beragama. Desa yang sangat damai, kekompakan untuk bergotong royong membersihkan desa, saling membantu ketika ada acara.
Ah!! Aku sangat rindu kampung halamanku..
Aku sangat bersyukur dibesarkan oleh kakek dan nenek yang tak pernah menyuruhku harus begini, harus begitu. Dan tak pernah melarangku untuk berteman dengan siapapun. tapi bqeliau sangat keras ketika aku ingin bolos mengaji.
Tidak banyak! Setelah lulus SD aku dimasukkan ke pesantren.
Dan aku sadar bahwa keyakinan itu ada di dalam lubuk hati paling dalam, dan tak seorang pun yang bisa menghukumi yang ada di dalamnya.
Aku sangat senang membaca arti dari Surah Maryam yang menceritakan kelahiran Nabi Isya as. Nabi yang juga harus dimuliayakan oleh umat islam.
Merry christmas buat teman-temanku sejak kecil.