Senin, 27 Maret 2017

Sensasi Fenomena Alam di Kota Pontianak

Indonesia merupakan salah satu negara di dunia yang mempunyai 34 provinsi dengan Keindahan geografi, keunikan budaya, dan dilintasi garis khatulistiwa, tepatnya di Pontianak, ibu kota Kalimantan Barat.

Kota yang mempunyai keunikan fenomena saat bayangan benda terhadap matahari menghilang.

Fenomena itu dikenal dengan istilah kulminasi matahari, yang terjadi setiap setahun dua kali pada 21-23 Maret dan 21-23 September. Menurut para ahli, titik kulminasi matahari merupakan fenomena alam ketika matahari tepat berada di garis khatulistiwa. Pada saat itu posisi matahari tepat berada di atas kepala sehingga bayangan benda-benda di permukaan bumi tidak tampak. Kulminasi matahari juga menghasilkan gaya gravitasi yang cukup kuat sehingga bisa membuat telur berdiri tegak di titik nol derajat.

Keunikan fenomena alam ini sering dijadikan momen digelarnya serangkaian kegiatan budaya yang dipadukan dengan ilmu pengetahuan (Iptek). Salah satu kegiatan yang digelar adalah lomba mendirikan telur yang tepat dilakukan saat matahari dalam posisi tegak lurus di pusat titik equator yakni mulai pukul 11.00 WIB hingga pukul 12.30 WIB.

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Pontianak pun mengemas fenomena unik itu menjadi acara Pesona Kulminasi Matahari yang diselenggarakan pada tanggal yang sama setiap tahunnya di Tugu Khatulistiwa.

Sejarah mengenai pembangunan tugu ini juga dapat dibaca ketika berkunjung ke monumen Khatulistiwa pada catatan yang terdapat di dalam gedung.

Dalam catatan tersebut terdapat beberapa point yang disebutkan bahwa, Berdasarkan catatan yang diperoleh pada tahun 1941 dari V. en. W oleh Opzichter Wiese dikutip dari Bijdragen tot de geographie dari Chef Van den topographischen dienst in Nederlandsch- Indië : Den 31 sten Maart 1928 telah datang di Pontianak satu ekspedisi Internasional yang dipimpin oleh seorang ahli Geografi berkebangsaan Belanda untuk menentukan titik/tonggak garis Equator di kota Pontianak dengan konstruksi dengan pembangunan Tugu pertama pada tahun 1928 yang berbentuk tonggak dengan anak panah.

Kemudian disempurnakan pada tahun 1930 dengan bentuk tonggak dengan lingkarang dan anak panah.

Selanjutnya dibangun kembali pada tahun 1938 dengan penyempurnaan oleh opzicter / architech Silaban. Tugu asli tersebut dapat dilihat pada bagian dalam.

Dan terakhir pada tahun 1990, Tugu Khatulistiwa direnovasi dengan pembuatan kubah untuk melindungi tugu asli serta pembuatan duplikat tugu dengan ukuran lima kali lebih besar dari tugu yang aslinya. Dan di resmikan oleh Gubernur Kalimantan Barat Parjoko Suryokusumo pada tanggal 21 September 1991.

Pada bulan Maret 2005, Tim Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) melakukan koreksi untuk menentukan lokasi titik nol garis khatulistiwa di Kota Pontianak. Koreksi dilakukan dengan menggunakan gabungan metode terestrial dan ekstraterestrial yaitu menggunakan global positioning system (GPS) dan stake-out.

Hasil pengukuran oleh tim BPPT dari data wikipedia menunjukkan, posisi tepat Tugu Khatulistiwa saat ini berada pada 0 derajat, 0 menit, 3,809 detik lintang utara; dan, 109 derajat, 19 menit, 19,9 detik bujur timur.

Sementara, posisi 0 derajat, 0 menit dan 0 detik ternyata melewati taman atau tepatnya 117 meter ke arah Sungai Kapuas dari arah tugu saat ini. Di tempat itulah kini dibangun patok baru yang masih terbuat dari pipa PVC dan belahan garis barat-timur ditandai dengan tali rafia.

Mengenai posisi yang tertera dalam tugu (0 derajat, 0 menit dan 0 detik lintang, 109 derajat 20 menit, 0 detik bujur timur), berdasarkan hasil pelacakan tim BPPT, titik itu terletak 1,2 km dari Tugu Khatulistiwa, tepatnya di belakang sebuah rumah di Jl Sungai Selamat, kelurahan Siantan Hilir.


Bagi anda yang penasaran ayo berkunjung ke kote kite tercinte Pontianak Kalimantan Barat.


Belajar Setia dari Film Beauty and The Beast


Bagaimana bisa mencintai seseorang yang wajahnya tidak layak untuk di lihat,  dengan sikap yang menakutkan dan jutek, apalagi untuk jatuh cinta?

Ternyata tidak di Film Beauty and the Beast yang menceritakan tentang seorang wanita cantik yang menaruh atau jatuh hati kepada manusia yang memiliki rupa yang buruk. Wanita tersebut bernama Bella (Emma Watson) dan pria yang memiliki rupa buruk tersebut yang diperankan oleh Dan Stevens.

Dari film yang ku tonton di bioskop favoritku itu, ternyata tak bisa membuka sisi kiri memori otak ku, selayang pandang, bahwa mencintai itu tak hanya soal berkasih sayang, lebih dari itu, menjaganya, mempertahankannya dan memupuknya agar rasa itu tetap tumbuh subur dalam sanubari.

Film yang disetting pada jaman kolosal, di saat kebanyakan perempuan sibuk mempercantik diri dengan dandanan dan penampilan yang lebih modern. Namun sosok berbeda yang di perankan Belle yang sibuk belajar dan membaca banyak buku. Pada point ini, cantik saja tidak cukup, sebab perempuan butuh kecerdasan, bukan sekedar label! Ingat bukan label, apalagi stempel.

Kemudian, perempuan yang dianggap sebagai kaum lemah, tapi tidak terbukti dalam film ini, sosok Belle menunjukan sebagai perempuan yang kuat dan pemberani. Bayangkan saja, ia mengendarai kuda sendirian dan menembus hutan yang dipenuni srigala-srigala menakutkan.

"Inget loh jeung, perempuan itu butuh kerja keras untuk meraih sesuatu..

Dan terakhir, adalah soal kesetiaan.

Tak bisa dipungkiri kebanyakan perempuan di dalam tata surya ini selalu ingin mendapatkan pasangan yang selaian indah wajahnya juga tampan hatinya.

Karena cinta sejati itu bersemi dari hati..

Lagi-lagi sosok perempuan yang di perankan Belle mampu membuktikan bahwa perempuan dapat mencintai dengan tulus walaupun rupa yang tak layak dari The Beast.

Jumat, 17 Maret 2017

Untaian Kalimat Indah di Hari Jum’at

Shalawat merupakan untaian kalimat terindah untuk  Nabi Muhammad Saw,  yang  memiliki banyak keutamaan dan pahala yang agung. 

Allah berfirman dalam Al-Qur’an  (QS. Al-Ahzab/33: 56)

إِنَّ اللَّهَ وَ مَلَئكتَهُ يُصلُّونَ عَلى النَّبىّ‏ِ يَأَيهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا صلُّوا عَلَيْهِ وَ سلِّمُوا تَسلِيماً

Artinya.“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi; wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu kepadanya dan ucapkan salam kepadanya.”

Sebagian besar mufassir tidak berbeda pendapat dalam memahami ayat ini. Bentuk shalawat Allah kepada Rasul berupa limpahan rahmat, keberkahan dan anugerah Allah kepada Nabi Muhammad secara terus menerus. 

Shalawat Malaikat kepada Rasulullah berupa permohonan agar dipertinggi derajat Muhammad dan dicurahkan maghfirah (ampunan) atas dirinya. Sedangkan bentuk shalawat orang-orang mukmin adalah permohonan doa agar Nabi Muhammad selalu terhindar dari segala aib dan kekurangan. 

Dan juga menyebut-nyebut keistimewaan dan jasa beliau untuk dijadikan panutan dalam kehidupan.

Dalam kitab Al-Lum'ah fi Khasha’ishil Jumuah, Al-Hafizh As-Suyuthi menyebutkan beberapa hadits yang menunjukkan betapa besar keutamaan amalan memperbanyak baca sholawat nabi pada hari Jumat, di antaranya adalah:

Diriwayatkan dari Aus bin Aus, Rasulullah SAW bersabda:

ان من افضل ايامكم يوم الجمعة فيه خلق ادم و فيه قبض وفيه النفخة وفيه الصعقة فاكثروا من الصلاة علي فيه فان صلاتكم معروضة علي

Artinya, "Sesungguhnya di antara hari kalian yang paling utama adalah Hari Jumat. Pada hari itu Adam diciptaan dan diwafatkan, dan pada hari itu juga ditiup sangkakala dan akan terjadi kematian seluruh makhluk.  Oleh karena itu perbanyaklah membaca sholawat kepadaku pada hari Jumat, karena shalawat kalian akan dipersembahkan kepadaku."

Hadits ini bersumber dari Anas Rasulullah SAW bersabda :

من صلى علي في يوم الجمعة الف مرة لم يمت حتى يرى مقعده فى الجنة

Artinya, "Barang siapa membaca sholawat atasku pada hari Jumat seribu kali, maka ia tidak mati kecuali akan diperlihatkan kedudukannya di surga.”


Wa Allahu a‘alam

Kamis, 09 Maret 2017

Harga Teman, dan Nasi Warteg

Saya yakin, kita pernah mempunyai teman yang super menyebalkan ketika kita sama salah paham, si doi malah gak paham-paham, Suuzdon terus, dan jenis teman yang seperti ini bikin kita mikir, “ini orang kayak bukan makhluk bumi” atau “Duh, ini orang masa hal sepele begini aja suara amarahnya sudah mengalahkan suara toak.
Itu sudah biasa kita temui, bahkan sejak kecilpun kita sudah punya teman dengan berbagai watak, termasuk watak pribadi kita sendiri, yang terkadang cocok-cocokan terhadap watak teman. (Yaelah cocok! Jodoh kali ah!)
Ada seorang teman, (saya cerita teman masa SMP aja, karena kalau diceritakan semua kebanyakan) sebut saja namanya kartika (bukan nama sebenarnya) dia wataknya keras kepala, egois, cuek, dan kalo ngomong pedes banget (cabe rawit pokoknya).
Jika ada yang bertanya, lantas mengapa saya masih bisa bertahan bershabat dengan dia hingga saat ini? Padahal watakku juga jauh keras kepala, dan egois.
"Bersahabat denga kartika selalu membuatku bahagia" simpel hanya karena membuat bahagia.
Sisi baiknya dia jauh lebih banyak dibanding keburukkannya.
Doi selalu memberitahu ketika saya salah, mengingatkan ketika saya lupa dalam kebaikan. (Padahal umurnya masih dibawahku)
Doi rajin ibadahnya, jam 3 subuh sudah bangun menunaikan sholat tahajud, pribadinya tertutup, disiplin, tepat waktu, senang berbagi, tidak mudah untuk menyebarkan aib teman-temannya, dan satu hal yang tidak bisa dilupakan, dulu ketika masih sama-sama dibandung, pada waktunya kita sama-sama berhalangan puasa, doi sering ngajak beli jajanan bandung pada bulan Ramadhan di sepanjang trotoar Alun-alun Masjid raya, dan memakannya di balik taman agar tak terlihat khalayak ramai. (Ingat! Adegan ini tidak layak untuk ditiru) dan masih banyak pribadinya yang membahagiakan.
Jika ditanya lagi, apakah kita tidak pernah berselisih, atau salah paham, atau brantem saling teriak-teriakan?
Waah itu sering, bahkan sering banget, tapi kita teriak-teriaknya didalam hati, saling menjengkelkan, dan menyebalkan. Doi cukup dewasa menyikapinya, cukup sama-sama diam, tidak pernah mengumumkan jika lagi ada masalah denganku, memposting status di fb contohnya, doi tidak pernah sekalipun melakukan hal yang tidak penting itu, cukup diam dan saling introspeksi diri.
Ada banyak alasan untuk berteman dengan dia, dan hingga saat ini persahabatan tetap erat. Dan satu hal lagi yang membuatku selalu ingin bershabat dengannya, doi rajin baca buku.
Karena menurutnya membaca membuatnya berfikir cardas dan bijak.
Saya pernah membaca salah satu artikel mojok, di zaman keberlimpahan informasi seperti sekarang ini, yang kecepatan perputaran arus informasi tidak diimbangi dengan minat membaca yang serius. Orang-orang jadi nampak “banyak yang bego”. Sebabnya, membaca juga merupakan keterampilan, yang sama seperti keterampilan sederhana lain seperti mengayuh sepeda, misalnya, yang mesti dilatih terus-menerus agar semakin cakap.
Dan menurut survey abal-abal yang saya teliti, sesorang dengan menyandang umur yang lebih tua, ternyata tidak menjamin otaknya jernih dalam bersikap, Suuzdon terus. Dan dewasa ternyata benar-benar sebuah pilihan.
Kembali pada tema TEMAN, saya pun teringat ketika dipondok dulu, sebelum memulai belajar yang lain, kiyai mengajarkan kitab-kitab adab, salah satunya Taklimul Muta'allim, dan syair-syair imam syafi'i yang seingatku isinya seperti ini :
"Bila tak kautemukan sahabat-sahabat yang taqwa, jauh lebih baik kamu hidup menyendiri daripada kamu harus bergaul dengan orang-orang jahat.
Percayalah, duduk sendirian untuk beribadah dengan tenang akan lebih menyenangkanmu daripada bersahabat
dengan kawan yang mesti kamu waspadai.
Selamatkanlah dirimu, jaga lidahmu baik- baik, tentu kamu akan bahagia walaupun kamu terpaksa hidup sendiri.
Tidak baik bersahabat dengan pengkhianat karana dia akan mencampakkan cinta setelah dicintai. Dia akan memungkiri jalinan cinta yang telah terbentuk dan akan menampakkan hal-hal yang menjadi rahasiamu.
Tak semua orang yang engkau cintai, akn mencintaimu. Dan terkadang sikap ramahmu dibalas dengan sikap tak sopan.
Berharaplah engkau mendapatkan sahabat sejati yang tak luntur baik dalam keadaan suka ataupun duka. Jika itu engkau dapatkan, berjanjilah dalam hatimu untuk selalu setia padanya.
Apabila engkau menginginkan kemuliaan maka carilah sahabat dari orang orang yang takut kepada Allah Swt".
Senada dengan pesan salah seorang teman kampusku " cara berteman yang sehat tidak hanya berteman yang "kelihatan" baik, karena diri kamu mudah terpengaruh, maka berhati-hatilah dalam bergaul" sekilas pesannya pendek tapi kok "makjleb banget" apalagi beliau sudah pernah merantau ke negeri para ulama, konsumsi kitab-kitabnya jauh lebih banyak, dan juga beliau pasti sudah banyak mengalami sensasi problematika berteman.
Aduuh Gustiii nu Agung, hapunten sagala hilaf abdi!!
Ada dua poin yang perlu kita ketahui, kenapa TEMAN adalah menu yang harus disantap sebelum Ah*k jadi Gubernur DKI.
Pertama: Tidak ada label halal MUI, Ketika warung-warung steak, dan cafe-cafe banyak diganggu oleh seritifikasi halal MUI, maka makan daging mentah teman (menggunjing) akan ada terus dalam peradaban dunia.
Kedua: Murah meriah. Ketika kutahu bahwa makan di warung steak yang harganya bisa buat makan seminggu di warteg, Berapapun itu, yang pasti tidak akan lebih murah ketimbang makan daging mentahnya teman. Makan teman bisa dikatakan tidak ada biayanya. Atau malah untung. Saya hanya butuh teman untuk mendengarkan omonganku, dan akan saya ceritakan aibnya lalu saya menggunjingnya di sosmed. Murah!
Naah! Coba deh sesekali baca kitab-kitab imam Al-Ghazali pada bab "Menggunjing/Ghibah". Kalau gak punya coba pinjem. Kalau gak ada juga, yaelah pantas aja hidup mu suram! (Eh jangan darah tinggi dulu, cuma becanda)
Karena doaku tetap sama seperti dulu, semoga hidupmu lebih indah.

Jumat, 01 April 2016

Desa itu bernama Dusun Limau



Ketika pagi rumah kami selalu disinari secara langsung oleh matahari dengan pemandangan sungai kapuas..
Sungai kapuas adalah sungai yang sangat panjang, lebarnya bisa mencapai 600 meter dan dalamnya ketika pasang bisa lebih dari 15 meter. Sungai ini terlihat tenang namun sebenarnya lumayan deras dan menghanyutkan.
Yaah! rumah kami memang berada ditepi sungai kapuas, dengan bangunan yang cukup tinggi yang semuanya berasal dari kayu belian. Konon kayu belian ini sangat awet meskipun terendam air hingga puluhan tahun.
Kami memang hidup dengan berbagai keberagaman agama, suku dan adat istiadat.
Di desaku ini tidak cukup banyak seorang ustazd yang mengajar ngaji di musholla. Sehingga untuk belajar mengaji setiap sore aku harus menempuh perjalanan sepanjang 4 km ke desa sebelah dengan berjalan kaki, dan malamnya harus menginap dirumah uwak atau dirumah teman-temanku. Setelah subuh aku harus segera pulang karena harus sekolah di SDN 04 desa puguk.
Setiap berangkat ke sekolah, ketika melewati rumah orang yang beragama katholik dan tionghoa tak jarang aku selalu bertemu dengan si kubi (nama anjing). Sebelum nenek ku melarang dan mengharamkanku untuk menyentuh anak anjing itu aku pernah sekali menegelus-elus kepalanya, tapi karena aku masih ingat ketika Denis melaporkanku karena menyentuh anak anjing itu sontak nenekku langsung memberikanku hukuman dimandikan secara paksa dengan menggunakan air yang bercampur debu itu, aku jadi tak berani untuk sekadar memanggilnya apalagi menyentuh si kubi itu lagi.
Disekolah aku sangat lancar berbahasa cina dan dayak karena teman-temanku sering mengajariku bahasa mereka, bahkan ketika hari minggu aku sering ikut temanku Ninis Ariska yang beretnis tionghua dan katolik itu untuk menemaninya ke Gereja, selama melakukan ritualnya didalam gereja aku, anggi dan tika yang beragama islam hanya menunggu diluar gereja sambil menghafalkan lirik lagu-lagunya penyanyi junjungan kami Siti Nurhaliza.
Ninis pun tak jarang ikut ke masjid meskipun ia hanya menemani untuk makan mie remes di halaman mesjid ketika orang-orang sedang sholat tarawih.
Yah kami berempat memang berteman sangat akrab sejak kecil, selain kita satu kelas, rumah kita yang berdekatan yang membuat kita selalu bermain bersama. Tak jarang kita selalu jadi penari dan penyanyi cilik melayu di acara-acara walimah di desaku.
Ketika hari raya idul fitri, sebelum berangkat ke masjid untuk sholat iedul fitri, nenekku sibuk menyiapkan makanan dan menyuruhku untuk mengantarkannya ke rumah tetangga juga ke rumah yang non muslim.
Begitu juga ketika menjelang nyepi dan natal tak jarang mereka selalu mengirim angpau atau parcel kerumahku.
Aku juga pernah menyaksikan acara adat dayak "naik dangau" yang diadakan dua tahun sekali.
Aku juga sering ikut menghias pohon natal dirumah ninis.
Dan betapa aku sangat bahagia pernah hidup di desa yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi dalam beragama. Desa yang sangat damai, kekompakan untuk bergotong royong membersihkan desa, saling membantu ketika ada acara.
Ah!! Aku sangat rindu kampung halamanku..
Aku sangat bersyukur dibesarkan oleh kakek dan nenek yang tak pernah menyuruhku harus begini, harus begitu. Dan tak pernah melarangku untuk berteman dengan siapapun. tapi bqeliau sangat keras ketika aku ingin bolos mengaji.
Tidak banyak! Setelah lulus SD aku dimasukkan ke pesantren.
Dan aku sadar bahwa keyakinan itu ada di dalam lubuk hati paling dalam, dan tak seorang pun yang bisa menghukumi yang ada di dalamnya.
Aku sangat senang membaca arti dari Surah Maryam yang menceritakan kelahiran Nabi Isya as. Nabi yang juga harus dimuliayakan oleh umat islam.
Merry christmas buat teman-temanku sejak kecil.

Menata Sandal Kiai




Setiap shalat berjamaah di masjid hampir seluruh santri yang memiliki kebiasaan ini, yaitu berebut menata sandal kiyainya agar ketika turun dari masjid kiyai langsung memakainya tanpa harus membalik atau mencari-carinya yang bercampur dengan sandal para santri.
Hal itu yang selalu dilakukan sejak KH. Hasyim Asy'ari menjadi santri di pesantren wonokoyo probolinggo, setiap pesantren yang pernah di singgahi beliau selalu melakukan hal itu.
Sejak menjadi santri di pesantrennya KH. Sholeh Darat, di semarang, beliau semakin berkhidmat dan berbakti kepada kiyainya.
Tradisi ini kerap di sebut sebagai "ngalab berkah" atau mencari berkah.
Hingga saat ini tradisi ini masih menjadi amalan santri yang ingin mendapatkan berkah. Karena dipercaya ketika di zaman Rasulullah Muhammad saw ada seorang anak kecil yang berusia belasan tahun bernama Salman, ia selalu datang lebih awal ke masjid sebelum Nabi Muhammad datang, setelah Nabi masuk ke masjid, ia pun segera bergegas merapikan dan membalik posisi sandal Rasulullah. Hal itu dilakukan setiap hari, hingga membuat Nabi Muhammad penasaran.
Suatu ketika saat masuk mesjid, Rasulullah sengaja sembunyi untuk melihat siapa orang yang mengubah letak sandalnya, dilihatlah Salman yang berbuat demikian, Nabi kemudian mendoakan Salman agar kelak setelah dewasa menjadi orang yang alim dalam ilmu fiqih dikalangan Ulama.
Mungkin itu alasan yang selau dilakukan beliau Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy'ari (Pendiri Nahdlatul Ulama) ketika dipesantren dulu.
Hingga saat ini selalu menjadi tradisi atau amalan yang tak pernah terlupakan oleh santri nusantara demi keberkahan dan kebaktian yang didapat dari bakti yang tulus.

Selasa, 27 Oktober 2015

Belajar Menjadi Santri



"Ayooo maju satu persatu!!" Seru Kiyai pada para santri yang masih kecil-kecil dan masih baru..
Satu persatu dari kami pun maju untuk membaca Nazdom Kitab 'imrithi dengan cara bil ghoib (tanpa melihat Kitab).
Kitab “Nadhom Al-Imrithi” ini merupakan matan Kitab Jurumiyyah atau kitab ilmu nahwu yang merupakan bentuk nadhom/natsar/sya’ir, yang dikarang oleh Al-Muallamah Syeikh Syarafuddien Yahyaa Al-Imrithi Rohimahulloh.
Setelah semua selesai, Kiyai kembali mengumumkan nama-nama yang setorannya tadi tidak lancar, satu persatu nama-nama disebutkan oleh Kiyai di depan semua santri yang sedang mengaji.
"Sampuji, Andi, Bidet, Cong kenik, Abdul Hamid, Abdul Ghoni, Mas'udi, Rusli, Dan Sulaiman siantan."
Kemudian santri putri yang di umumkan oleh Kiyai..
"Sufatmi, Maliha, Nur hayati, Lucy, Suhelmi, Ita, Iftah, Zeiniyah, Kartika dan Dehela.
"Besok kalian harus bikin tulisan yang paling bagus, yaitu menulis Al-fatihah dengan tulisan Arab yang benar dan bagus!" tegas Kiyai seraya meninggalkan ruang pengajian.
Semua terdiam tak berbicara karena merasa malu, karena hampir semua dari santri yang dikenakan hukuman karena tidak lancar Hafalan Nazdom kitab 'imrithi, merupakan santri yang masih kecil atau adik kelas dan termasuk santri baru.

Ketika itu di pesantren sedang kemarau panjang hingga menyebabkan semua sumber air kering, bahkan untuk minumpun kita meminum air yang diambil dari kolam (sumur). Kolam itu pun sangat kecil dan hampir kering pula, karena di khususkan menggunakan air kolam itu hanya untuk memasak. Jadi untuk mandi kita harus mencarinya ke arah timur ( kehutan sebelah timur pesantren) berjam-jam baru menemukan air untuk mandi dan wudhu, kebanyakan dari kita memanfaatkan kesempatan itu untuk sekedar rekreasi atau mencari buah cempedak milik  Kiyai yang kebetulan sedang musim berbuah.
Kalau dalam pikiran santri setiap yang tumbuh dimuka bumi adalah milik Allah, nah kita kan Mahluk Allah jadi "kulluhum". Apalagi di tanah milik Kiyai.
Begitulah gosib-gosib yg tersebar dikalangan pesantren, akan tetapi itu hanya sekedar candaan saja,jadi tidak boleh ditiru.

Setelah selesai mandi kita semua balik ke pesantren dengan membawa seember air untuk persiapan wudhu.
Sesampainya di ghotakhen (baca: kamar) bukannya segar karena selesai mandi tapi malah semakin bercucuran keringat.
Dan enggan hanya untuk sekedar membaca kitab atau memeriksa tugas-tugas hafalan yang harus di setorkan esok hari.
Waktu pun sudah menunjukkan pukul 14.30, karena waktu sholat Ashar sekitar 30 menit lagi kita pun tidur sejenak melepas lelah, sampai tidak sadar sudah lewat waktu ashar dan sudah waktunya untuk mengaji kitab Al-jurmiyah hingga malamnya pun kita harus mengikuti kegiatan semua yang ada di pesantren  hingga selesai sekitar pukul 22.30, namun berbeda dengan santri yang sudah terbilang senior atau kakak kelas yang kegiatan mengajinya terkadang sampai pukul 23.59 malam.
Akan tetapi bagi kita yang masih terbilang santri yang masih belum bisa mengatur waktu dengan disiplin menggunakan waktu selesai mengaji dengan segera menyerbu kantin pesantren, ada juga yang masak, bercanda namun ada juga yang langsung tidur.

"Subuh! Subuh! Subuh!" terdengar suara kak Zulfa dan kak Khofifah yang berusaha untuk membangunkan santri disetiap ghotakhen, semuanya bergegas mencari air, ada yang memang sudah mempersiapkan air di ember dari hari kemarin, ada juga yang harus mencarinya ke Sungai kecil yang ada diluar pesantren.
Setelah sholat subuh kita semua diharuskan tetap berada di Musholla, meski banyak yang menggunakan waktu berharga itu dengan tidur diatas sajadah masing-masing, tetapi tidak sedikit juga yang menggunakan waktu sehabis subuh itu untuk menghafal Al-Qur'an ataupun Nazdom Kitab 'imrithi hingga menjelang pagi yang dilanjut dengan serangkaian kegiatan mengaji Al-Qur'an di dhalem (baca: Rumah) Kiyai.

Tidak semua yang tertib mengikuti kegiatan di pesantren, ada yang berpura-pura sakit dengan memakai koyok/salonpas di kepalanya dan tiduran sambil memakai selimut layaknya orang yang sedang sakit. Cara ini sangat ampuh untuk membuat para kakak senior untuk tidak menyuruh mengaji, namun lambat laun akhirnya ketahuan karena saking maraknya santri yang malas mengaji alih-alih dengan pura-pura sakit.


Dan pagi itu pukul 06.00 tibalah waktu mengaji Al-Qur'an, karena memang masih tergolong masih anak-anak dan santri baru yang masih belum bisa mengatur waktu dengan disiplin. kita seakan-akan lupa dengan tanggung jawab untuk menghafal Nadzom imrithi, semuanya lalai seakan-akan tidak ada apa-apa, Sehingga setelah mengaji Al-Quran yang dipimpin langsung oleh Kiyai, kita baru sadar akan tugas yang harus di selesaikan, akan tetapi sudah tidak banyak waktu lagi untuk kita gunakan menghafal Nazdom 'imrithi.

Waktu sudah menunjukkan pukul 09.00 dan bel pun berbunyi yang menunjukkan waktunya untuk mengaji Kitab 'imrithi.
pada akhirnya kita harus maju dalam perasaan bersalah, dan takut karena tidak hafal sama sekali.
Bukan karna hafalannya sulit ataupun tidak ada waktu untuk menghafal hanya karna kita sendiri yang terlalu lalai, karena kelalaian kita kemarin itulah yang menyebabkan kita lupa untuk menghafal kitab 'imriti untuk di setorkan.
Bersambung

*sedikit cerita dan hanya sekedar utk mengingat masa² indah ketika di pesantren*